Pages

Hutan Kunci Bagi Sasaran Pembangunan

Hutan dunia memainkan perang penting dalam peralihan ke ekonomi hijau, tapi pemerintah perlu berbuat lebih banyak guna menjamin hutan tersebut dikelola secara berkelanjutan

Pelet Kayu, Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi

Penggunaan wood pellet (pelet kayu) sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil untuk industri besar, kecil, dan rumah tangga menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan dengan minyak tanah dan gas.

COP19 Warsawa : Indonesia Paparkan Inisiatif Hijau Dalam Kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung

"Green Initiatives on Protected Forest, Production Forest and National Parks" COP-19/CMP-9 UNFCCC, Warsawa, Polandia (15/11/2013).

Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks

ITTO co-hosted a discussion forum on “Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks” at Forest Day 6, convened during UNFCCC COP18 in Doha, Qatar.

Tuesday, October 8, 2013

Indonesia kurangi risiko perubahan iklim dengan teknologi

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia terus meningkatkan upaya-upaya pengurangan risiko bencana akibat perubahan iklim melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Indonesia sebagai salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia, memahami betul dampak bencana terhadap aspek sosial dan ekonomi salah satunya yang ditimbulkan dari perubahan iklim," kata Sekretaris Kementerian Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat, Sugihartatmo, di Jakarta Rabu dalam pembukaan workshop "Reducing Vulnerability to Disasters and Climate Change Impacts in Asia for The Fisheries and Aquaculture Sectors".

Dia menjelaskan, kawasan Asia Pasifik tahun 2012 merupakan wilayah paling rawan bencana di dunia. Sementara itu terjadinya bencana dinilai dapat berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan bersangkutan.

Banyak kelompok rentan, seperti keluarga miskin, yang situasi kehidupannya menjadi semakin sulit jika terkena bencana.

Oleh karena itu, Negara-negara di ASEAN maupun di kawasan Asia Pasifik menyadari pentingnya memperkuat kerja sama dalam pengurangan risiko bencana dan peningkatan ketangguhan menghadapi bencana.

"Pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat merupakan tantangan yang cukup serius dalam era perubahan iklim dan tingginya frekuensi kejadian bencana. Masyarakat yang perekonomian dan mata pencahariannya bergantung pada faktor iklim/cuaca seperti petani, nelayan dan masyarakat pesisir menjadi semakin rentan," katanya.

Masyarakat, tambah dia, harus dikondisikan untuk lebih siap, tahan dan kuat terhadap ancaman yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

"Untuk menghadapi perubahan iklim dan dampak-dampaknya, perlu segera mengintegrasikan dan mengarusutamakan aspek mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kedalam program-program pembangunan nasional," katanya.

Sedangkan Kepala Perwakilan FAO Indonesia, Dr Mustafa Imir, mengatakan bahwa tujuan dari lokakarya regional ini adalah untuk menetapkan dasar mutakhir berkaitan dengan integrasi perubahan iklim, manajemen risiko bencana dan perikanan dan budidaya di negara-negara ASEAN.

Selain itu, mengkoordinasikan kegiatan, memperkuat kemitraan dan mengidentifikasi kesenjangan dan daerah prioritas bagi dukungan penyelenggara dan mitra kerja lainnya.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/398479/indonesia-kurangi-risiko-perubahan-iklim-dengan-teknologi

Monday, October 7, 2013

ASIA LEDS 2013 : Low Emission Development Can Deliver Better Quality of Life

Manila, Philippines, October 5, 2013 – Approximately 250 government officials, practitioners, and experts gathered at the second annual Asia Low Emission Development Strategies (LEDS) Forum in Manila, Philippines during October 1-4, 2013 to discuss and share best practices, tools, and ideas for achieving sustainable, climate-smart development in the largest and fastest growing region of the world. Participants came from 22 Asian and Pacific countries, and were joined by representatives from countries in Africa, North America, South America, and Europe.



Opening the event, Mr. Naderev Saño, Commissioner of the Philippines Climate Change Commission, recounted his morning commute on Manila’s mass transit rail system, noting that people want clean, efficient transport and other elements of a high quality of life, and that a low-emission development path can and must address these needs. In the keynote address, Secretary Mary Ann Lucille L. Sering, Commissioner and Vice Chairperson of the Climate Change Commission, described the acute vulnerability of the Philippines to climate change, and the actions the Philippines government are taking to grow economically in a way that increases climate-resilience and reduces the growth in greenhouse gas emissions.

Under the theme of “Putting LEDS into Practice”, sessions over the four days of the forum included panel discussions and break out groups where participants shared experiences, lessons, and viewpoints of how governments, international organizations, civil society groups, and the private sector are working at different levels and in different sectors to find solutions to the challenges of low-emission, green growth.

One highlight of the forum was a trade show-style session in which 16 different organizations and agencies set up displays to showcase a variety of LEDS tools and good practices, including a multimedia, three-dimensional model developed by the USAID Philippines and the Philippines Climate Change Commission entitled “LEDS @ Work”. (see photo above)

The Asia LEDS Partnership organized the forum, in cooperation with the Philippines Climate Change Commission and the USAID Philippines, Asian Development Bank (ADB), Australian Agency for International Development (AusAID), LEDS Global Partnership Secretariat, USAID Lowering Emissions in Asia’s Forest (LEAF) program, World Bank Institute, United Nations Development Programme (UNDP), Climate and Development Knowledge Network (CDKN), Vietnam Ministry of Planning and Investment, Center for Study of Science, Technology and Policy (CSTEP) of India, and Clean Air Asia.

Source :
http://forums.asialeds.org

Wednesday, September 25, 2013

Wood Pellets : Tumpuan Energi Masa Depan

Dr. Ir. Yetti Rusli
Staf Ahli IV Bidang Lingkungan Kementerian Kehutanan RI
Siapa tak kenal tarian Gangnam-Style? Tarian menyerupai naik kuda yang dipopulerkan oleh Psy itu mewabah ke seluruh dunia. Sejatinya, tidak hanya demam Gangnam yang sedang melanda Korea Selatan. Negeri Ginseng-julukan Korea Selatan-itu pun sedang keranjingan wood pellets alias pelet kayu.

Hal ini mengemuka dalam seminar Biomass Pellets: Towards a new era of renewable energy yang dihelat oleh Kedutaan Besar Korea Selatan pada 5 September 2013. Dalam acara tersebut Duta Besar Korea Selatan di Indonesia Kim Young-Sun menyatakan bahwa Pemerintah Korea Selatan memandang wood pellets sebagai salah satu incaran dalam meningkatkan investasi bidang produk biomassa dari hasil produksi kehutanan di Indonesia. Bukan tanpa musabab Korea Selatan tertarik dalam mengembangkan investasi di bidang wood pellets. “Sejak 2008 Pemerintah Korea Selatan telah menerapkan kebijakan energi terbarukan,”tutur Young-Sun.  Walhasil pemanfaatan wood pellets selain memberi nilai tambah terhadap perbaikan lingkungan, menurut Young-Sun memberikan keuntungan ekonomis.


Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc dalam Biomass Pellets : Towards a new era of renewable energy
Gran Melia Hotel, 5 September 2013
Duta Besar Korea Selatan
Kim Young-Sun
Senada dengan hal tersebut, Prof Prof Gyu-Seong Han dari Korea Association of Pellet menyoroti mengenai pertumbuhan konsumsi wood pellets di Korea Selatan yang terus melambung. Pada 2012 konsumsi wood pellets mencapai 174.000 ton. “Jumlah itu diperkirakan meningkat pada 2013 menjadi 500.000-630.000 ton ,” tutur Han. Seiring kebutuhan yang terus meningkat, Han menuturkan peluang impor dari negara lain pun terbuka lebar. Pada 2009, Korea Selatan mengimpor 12.043 ton. Jumlah itu meningkat menjadi 20.893 ton pada 2010 dan 29.678 ton pada 2011. “Pada 2012 mencapai 122.447 ton,” ungkap Han.

Prof Gyu-Seong Han


Sementara itu Dr. Yetti Rusli selaku Ketua Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan RI menekanankan mengenai pentingnya pemanfaatan energi terbarukan dalam mengatasi dampak ekologis perubahan cuaca. “Pemanfaatan wood pellets bisa menjadi salah satu solusi mengatasi  timbunan CO2 yang dihasilkan oleh pembakaran fosil,” tutur Yetty. Selain itu Yetty pun menekanan mengenai potensi hutan rakyat dalam mensuplai kebutuhan bahan baku biomassa untuk kepentingan energi terbarukan.

Acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh perusahaan Korea Selatan yang sudah bergerak dalam usaha pemanfaatan biomasa di Indonesia namun juga perwakilan investor. Demam wood pellets membuatnya digadang-gadang menjadi bahan bakar masa depan.

Berikut wawancara Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc dengan salah satu stasiun TV Swasta :


Sumber :
http://greenmadura.or.id/2013/09/wood-pellets-tumpuan-energi-masa-depan/

Tuesday, September 17, 2013

PDRB Hijau Menghitung Kerusakan Lingkungan

Kamis, 24/07/2008 ~ BANDUNG, (PRLM).- Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di sektor kehutanan atau sektor lingkungan lainnya harusnya sudah menggunakan PDRB hijau. PDRB hijau adalah menghitung pendapatan tidak hanya dari produk fisik, seperti kayu atau hasil hutan nonkayu, namun juga kerusakan lingkungan bila suatu produk tersebut tidak ada.

Tuesday, September 3, 2013

Perusahaan Korsel kembangkan Wood Pellet di Indonesia

Sindonews.com – Sejumlah perusahaan Korea Selatan (Korsel) mencoba mengembangkan Wood Pellet di Indonesia dalam upaya mendapatkan sumber energi biomassa. Sebagaimana diketahui, 'Negeri Ginseng' itu telah memberlakukan kebijakan RPS (renewable portfolio standard), di mana perusahaan-perusahaan pembangkit tenaga listrik besar wajib menggunakan energi terbarukan.


Perusahaan konsorsium yang mencakup Depian Co Ltd, SK Forest Co Ltd, Halla Engineering & Construction Co Ltd, Korea Trade Insurance Corporation (K-Sure), Industrial Bank of Korea (IBK), serta Moody Korea (KIS) dan salah satu perusahaan pembangkit listrik di Korea Selatan, berencana menginvestasikan USD17juta untuk memproduksi Wood Pellet dan penanaman tanaman energi di Pelaihari, Kalimantan Selatan. Mereka akan memasok Wood Pellet ke Korea Selatan.

Melalui PT SL Agro Industry dan PT Inhutani III (KSO), konsorsium mulai membangun fasilitas pada tahun ini, yang diharapkan dapat beroperasi serta menghasilkan Wood Pellet pada 2014. Kapasitas pabrik mencapai 100.000 ton per tahun dan akan diperluas hingga 200.000 ton per tahun.

Untuk kemajuan proyek tersebut, PT SL Agro Industry dan PT Inhutani III menyelenggarakan dialog bisnis di gedung Manggala, pada 23 Agustus 2013. Para peserta dialog bisnis ini antara lain Yetti Rusli (Kementerian Kehutanan), PT Inhutani III, PT Inhutani I, II, IV, V, Perum Perhutani, Kedutaan Besar Korea Selatan dan Mitra Korea (K-Sure, IBK, Halla Engineering & Construction dan Depian).

"Proyek ini mencakup pembangunan fasilitas untuk memproduksi Wood Pellet dan penanaman kayu sekitar 2.000 hingga 5.000 hektar HTI. Saat ini PT Inhutani III sedang mempersiapkannya dan akan memasok bahan baku untuk memproduksi wood pellet," kata Direktur Utama PT Inhutani III, Bambang Widyantoro.

Kim Joonho, (Project Finance Coordination Department Generation & Desalination Director, K-Sure), K-Sure merupakan perusahaan top ke-4 di dunia dalam bidang asuransi perdagangan dan lembaga pemerintah, mengatakan, "IBK akan memberikan pinjaman sebesar USD12 juta dan K-Sure akan sepenuhnya sebagai penjamin."

Kepala Deputy General Manager, Kepala Bidang Prasarana Tim Keuangan IBK, Kim Yi Kon menyebutkan,  "Indonesia merupakan salah satu negara sumber potensial untuk kebutuhan Wood Pellet di Korea Selatan. Selain memberikan pinjaman untuk proyek di Kalimantan Selatan, IBK juga bersedia untuk memfasilitasi pinjaman untuk perusahaan lain di bidang yang sama."

Kepala Proyek Departemen Keuangan 2 Moody Korea (KIS), Ro Ik Ho menuturkan, "KIS merupakan afiliasi dari Moody, yang merupakan salah satu lembaga pemeringkat kredit terkemuka di  dunia, dan KIS akan menerapkan studi kelayakan proyek untuk memberikan keaslian dan meningkatkan kepercayaan publik."

Konselor Kehutanan, Pertanian, Perikanan dan Perubahan Iklim, Kedutaan Besar Korea Selatan, Lee Mira mengatakan, kerja sama konsorsium ini bisa berfungsi sebagai pilot project untuk perusahaan Korea Selatan lainnya yang mencari mitra dalam mengembangkan energi alternatif di Indonesia.

"Konsorsium akan menjadi model yang baik untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia. Namun, sulit bagi mereka untuk menemukan pasangan yang tepat untuk memulai sebuah proyek di Indonesia. Karena itu, Depian Co, Ltd dan PT SL Agro Industry memilih untuk berkolaborasi dengan PT Inhutani III sebagai perusahaan yang dikelola negara,” ujarnya.

Sumber :

Kearifan lokal perlu diterapkan untuk menjaga hutan

Palu (ANTARA News) - Pejabat Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah, Susilowati, mengatakan kearifan lokal perlu diberdayakan untuk menjaga kelestarian hutan agar manfaatnya bisa terus dirasakan masyarakat.

"Memang Tuhan menciptakan hutan untuk manusia tapi pemanfaatannya harus bijak," kata Susilowati saat peluncuran pemantauan REDD+ di Palu, Sabtu.



Kepala Bidang Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah ini mencontohkan di sebuah daerah di Thailand terdapat sebuah kelompok adat yang mengelola hutan dengan bijaksana.

Suku di daerah Chiang Mai itu memiliki populasi sekitar 105 orang dan selama 200 tahun tidak mengalami pertumbuhan penduduk secara signifikan.

"Mereka mengelola hutan dengan baik dengan kearifan lokal yang dimiliki," katanya.

Dia menuturkan, tali pusat setiap anak yang baru lahir dililitkan di sebuah pohon kecil, dan setelah anak itu berusia lima tahun akan diberitahu oleh orangtuanya, "Ini pohonmu, kau harus menjaganya sampai besar."

Setiap pohon di suku pedalaman itu diberi nama sesuai anak yang baru lahir.

"Ini luar biasa, dan harus dicontoh," kata Susilowati.

Berbeda dengan warga yang tinggal di kawasan hutan Dongi-Dongi, Kabupaten Sigi.

Awalnya penduduk di Dongi-Dongi yang berada di kawasan hutan berjumlah sekitar 100 orang, dan kini sudah bertambah menjadi 1.000-an orang. Mereka merambah hutan untuk keperluan hidup, seperti bercocok tanam, dan perumahan.

"Kalau ini dibiarkan maka hutan di sekelilingnya akan habis," katanya.

Saat ini luas hutan di Sulawesi Tengah mencapai 4,1 juta hektare yang tersebar di 10 kabupaten dan satu kota. Dari luas tersebut, terdapat 288,5 ribu hektare lahan kritis, dan satu juta hektare hutan berpotensi kritis.

"Butuh puluhan tahun untuk merehabilitasi hutan berpotensi kritis itu," ujar Susilowati.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/393278/kearifan-lokal-perlu-diterapkan-untuk-menjaga-hutan

Saturday, August 31, 2013

Documents - 2011

2011 - visits the RUPES site in West Sumatera
http://www.mediafire.com/?a6465bdx7m54st2

2011 - Perubahan Iklim, Hutan & REDD+
http://www.mediafire.com/?ktl7w8ruxpun79q

2011 - Forest and Climate Change : Strategy & Modalities
http://www.mediafire.com/view/npt8s95o2zos9op/FOREST_AND_CLIMATE_CHANGE__STRATEGY_&_MODALITIES.pdf

2011 - Peran Media dalam Perhutanan Sosial dan REDD+
http://www.mediafire.com/view/?1giwrm0jo02sbk1

2011 - Pendanaan REDD+ : Pengantar Pemahaman
http://www.mediafire.com/view/?fw120chgegqh8jq

2011 - Newsletter COP17 Durban
http://www.mediafire.com/view/?bmm5wubsuorq5j2

2011 - Indonesia Technology Needs Assessment for Climate Change Mitigation 2011
http://www.mediafire.com/view/?t71dbmo3hmdv58g

2011 - Indonesia Forest & Climate Change (Now & Future)
http://www.mediafire.com/?ibk14b7czzuqeb4

2011 - Finding effective ways to implement REDD+ in Lombok
http://www.mediafire.com/?k4akm4iw50fobad

2011 - Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi - Kemenhut
http://www.mediafire.com/?og32wdwd1e46hdv

2011 - Companionship on Carbon in The Region
http://www.mediafire.com/view/?zei5if2y63j4qb0

2011 - 7th Policy Board meeting of the UN-REDD Programme
http://www.mediafire.com/view/?9a9dzpb8z81a428

Friday, August 30, 2013

Indonesia-Jepang jalin kerja sama perdagangan karbon

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat untuk melaksanakan kerja sama pengkreditan bersama (Joint Crediting Mechanism/JCM) dalam skema perdagangan karbon bilateral.

"JCM adalah kerjasama bilateral yang mengedepankan investasi berwawasan lingkungan untuk mendukung pembangunan rendah karbon," kata Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Affandi Lukman, dalam acara konferensi pers di Jakarta, Jumat.



Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, menurut dia, telah menandatangani dokumen kesepakatan kerja sama JCM itu di Jakarta pada 26 Agustus 2013.

Sementara Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida menandatangani dokumen tersebut pada 7 Agustus 2013 di Tokyo.

Menurut Rizal, Indonesia akan mendapatkan manfaat yang besar melalui kerjasama JCM tersebut, baik manfaat ekonomi maupun manfaat bagi lingkungan hidup.

"Melalui JCM kami mengharapkan perdagangan dan investasi antara Jepang dan Indonesia akan meningkat baik dari sisi volume maupun kualitas, termasuk untuk pemanfaatan teknologi yang lebih bersih dan hemat energi," ujarnya.

Dia mengatakan kerja sama perdagangan karbon bilateral itu merupakan wujud aksi dari kedua negara dalam merealisasikan komitmen penanganan perubahan iklim, khususnya melalui implementasi proyek-proyek rendah emisi karbon.

"Indonesia juga dapat mengklaim sebagian dari hasil pengurangan emisi di proyek-proyek JCM untuk pencapaian target pengurangan emisi," katanya.

Pemerintah Jepang, lanjut dia, juga diuntungkan karena sebagian hasil penurunan emisi gas rumah kaca dari proyek-proyek investasi di Indonesia dapat diklaim sebagai penurunan emisi negaranya.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori mengatakan, Jepang berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sampai 25 persen pada 2020.

Target tersebut, menurut dia, akan dicapai melalui kegiatan pengurangan emisi di dalam negeri dan melalui proyek pengurangan emisi yang dibiayai oleh pemerintah dan sektor swasta Jepang di luar negeri, khususnya di negara-negara berkembang melalui JCM.

"Melalui perusahaan swasta yang memiliki pengalaman dalam implementasi teknologi pengurangan emisi, kami dapat memfasilitasi investasi dan kerjasama kepada Indonesia melalui proyek JCM," kata Yoshinori.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/393091/indonesia-jepang-jalin-kerja-sama-perdagangan-karbon

Wednesday, August 28, 2013

Documents - 2012

2012 - Majalah Rimbawani :  Kehutanan, Bidang Karir Yang Selalu Menantang
http://goo.gl/FOMN4l

2012 - Sosialisasi Pedoman Penyusunan RAD-GRK Bidang/Sektor Kehutanan
http://www.mediafire.com/?n8log1d770jp39j

2012 - Potensi Penurunan Emisi GRK Bid.Kehutanan & Lahan Gambut
http://www.mediafire.com/view/?fjd5r0r7i6q5oc1

2012 - Possible Options for REDD+ Financing Mechanism: Indonesian perspective
http://www.mediafire.com/?47682ubyhuzkb

2012 - Lingking DA to National Registry
http://www.mediafire.com/view/?35k42eahk967ssi

2012 - Indonesia’s REDD+, An Update: Future Carbon Market (COP18 Doha)
http://www.mediafire.com/?t85xxmdg8ad8gsp

2012 - Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks
http://www.mediafire.com/view/?2o4kzx2ng2t9nt8

2012 - Climate Change & National Priority
http://www.mediafire.com/?47682ubyhuzkb

Tuesday, August 20, 2013

Documents - 2010

2010 - Surat Pengangkatan Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan & Perubahan Iklim
http://www.mediafire.com/view/k9kw5offffrchu7/Staf_Ahli_Menteri_Kehutanan_Bidang_Lingkungan.pdf
2010 - Prosiding Seminar Dampak Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan Dalam Revisi RTRWP Terhadap Neraca Karbon Dalam Kawasan Hutan
http://www.mediafire.com/view/yj12sp16ozy5qge/DAMPAK_PERUBAHAN_PERUNTUKAN_DAN_FUNGSI_KAWASAN_HUTAN_DALAM_REVISI_RTRWP_TERHADAP_NERACA_KARBON_DALAM

2010 - SFM Financing Fact & Challenges
http://www.mediafire.com/view/?gxnp51939sesyom

2010 - Economic Incentive Policies for REDD+ in Indonesia: Findings from the OSIRIS Model
http://www.mediafire.com/view/?z83d0dyq6sw590x

Thursday, July 25, 2013

ICCTF Discussion : Indonesia’s commitment to achieve 26% reduction of green house gas emission

ICCTF has been holding monthly discussions since July 2013. The first discussion was held on July 25, 2013 with topic on the provincial spatial plan from mitigation perspective. The discussion aimed at reviewing the current issues related to provincial spatial plan in the light of Indonesia’s commitment to achieve 26% reduction of green house gas emission unilaterally and 41% with international assistance by 2020. As 75% of emission from forestry sector is contributed from deforestation and land conversion so it is important to review current situation of the provincial spatial plan according to the reduction emission plan at the national level. Held at Luwansa Hotel, the discussion is attended by ICCTF stakeholders from line ministries, academics, CSOs and the media with Yetti Rusli, the Senior Adviser to the Minister of Forestry on Environment & Climate Change as the main speaker.