Pages

Hutan Kunci Bagi Sasaran Pembangunan

Hutan dunia memainkan perang penting dalam peralihan ke ekonomi hijau, tapi pemerintah perlu berbuat lebih banyak guna menjamin hutan tersebut dikelola secara berkelanjutan

Pelet Kayu, Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi

Penggunaan wood pellet (pelet kayu) sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil untuk industri besar, kecil, dan rumah tangga menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan dengan minyak tanah dan gas.

COP19 Warsawa : Indonesia Paparkan Inisiatif Hijau Dalam Kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung

"Green Initiatives on Protected Forest, Production Forest and National Parks" COP-19/CMP-9 UNFCCC, Warsawa, Polandia (15/11/2013).

Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks

ITTO co-hosted a discussion forum on “Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks” at Forest Day 6, convened during UNFCCC COP18 in Doha, Qatar.

Saturday, August 31, 2013

Documents - 2011

2011 - visits the RUPES site in West Sumatera
http://www.mediafire.com/?a6465bdx7m54st2

2011 - Perubahan Iklim, Hutan & REDD+
http://www.mediafire.com/?ktl7w8ruxpun79q

2011 - Forest and Climate Change : Strategy & Modalities
http://www.mediafire.com/view/npt8s95o2zos9op/FOREST_AND_CLIMATE_CHANGE__STRATEGY_&_MODALITIES.pdf

2011 - Peran Media dalam Perhutanan Sosial dan REDD+
http://www.mediafire.com/view/?1giwrm0jo02sbk1

2011 - Pendanaan REDD+ : Pengantar Pemahaman
http://www.mediafire.com/view/?fw120chgegqh8jq

2011 - Newsletter COP17 Durban
http://www.mediafire.com/view/?bmm5wubsuorq5j2

2011 - Indonesia Technology Needs Assessment for Climate Change Mitigation 2011
http://www.mediafire.com/view/?t71dbmo3hmdv58g

2011 - Indonesia Forest & Climate Change (Now & Future)
http://www.mediafire.com/?ibk14b7czzuqeb4

2011 - Finding effective ways to implement REDD+ in Lombok
http://www.mediafire.com/?k4akm4iw50fobad

2011 - Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi - Kemenhut
http://www.mediafire.com/?og32wdwd1e46hdv

2011 - Companionship on Carbon in The Region
http://www.mediafire.com/view/?zei5if2y63j4qb0

2011 - 7th Policy Board meeting of the UN-REDD Programme
http://www.mediafire.com/view/?9a9dzpb8z81a428

Friday, August 30, 2013

Indonesia-Jepang jalin kerja sama perdagangan karbon

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat untuk melaksanakan kerja sama pengkreditan bersama (Joint Crediting Mechanism/JCM) dalam skema perdagangan karbon bilateral.

"JCM adalah kerjasama bilateral yang mengedepankan investasi berwawasan lingkungan untuk mendukung pembangunan rendah karbon," kata Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Affandi Lukman, dalam acara konferensi pers di Jakarta, Jumat.



Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, menurut dia, telah menandatangani dokumen kesepakatan kerja sama JCM itu di Jakarta pada 26 Agustus 2013.

Sementara Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida menandatangani dokumen tersebut pada 7 Agustus 2013 di Tokyo.

Menurut Rizal, Indonesia akan mendapatkan manfaat yang besar melalui kerjasama JCM tersebut, baik manfaat ekonomi maupun manfaat bagi lingkungan hidup.

"Melalui JCM kami mengharapkan perdagangan dan investasi antara Jepang dan Indonesia akan meningkat baik dari sisi volume maupun kualitas, termasuk untuk pemanfaatan teknologi yang lebih bersih dan hemat energi," ujarnya.

Dia mengatakan kerja sama perdagangan karbon bilateral itu merupakan wujud aksi dari kedua negara dalam merealisasikan komitmen penanganan perubahan iklim, khususnya melalui implementasi proyek-proyek rendah emisi karbon.

"Indonesia juga dapat mengklaim sebagian dari hasil pengurangan emisi di proyek-proyek JCM untuk pencapaian target pengurangan emisi," katanya.

Pemerintah Jepang, lanjut dia, juga diuntungkan karena sebagian hasil penurunan emisi gas rumah kaca dari proyek-proyek investasi di Indonesia dapat diklaim sebagai penurunan emisi negaranya.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori mengatakan, Jepang berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sampai 25 persen pada 2020.

Target tersebut, menurut dia, akan dicapai melalui kegiatan pengurangan emisi di dalam negeri dan melalui proyek pengurangan emisi yang dibiayai oleh pemerintah dan sektor swasta Jepang di luar negeri, khususnya di negara-negara berkembang melalui JCM.

"Melalui perusahaan swasta yang memiliki pengalaman dalam implementasi teknologi pengurangan emisi, kami dapat memfasilitasi investasi dan kerjasama kepada Indonesia melalui proyek JCM," kata Yoshinori.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/393091/indonesia-jepang-jalin-kerja-sama-perdagangan-karbon

Wednesday, August 28, 2013

Documents - 2012

2012 - Majalah Rimbawani :  Kehutanan, Bidang Karir Yang Selalu Menantang
http://goo.gl/FOMN4l

2012 - Sosialisasi Pedoman Penyusunan RAD-GRK Bidang/Sektor Kehutanan
http://www.mediafire.com/?n8log1d770jp39j

2012 - Potensi Penurunan Emisi GRK Bid.Kehutanan & Lahan Gambut
http://www.mediafire.com/view/?fjd5r0r7i6q5oc1

2012 - Possible Options for REDD+ Financing Mechanism: Indonesian perspective
http://www.mediafire.com/?47682ubyhuzkb

2012 - Lingking DA to National Registry
http://www.mediafire.com/view/?35k42eahk967ssi

2012 - Indonesia’s REDD+, An Update: Future Carbon Market (COP18 Doha)
http://www.mediafire.com/?t85xxmdg8ad8gsp

2012 - Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks
http://www.mediafire.com/view/?2o4kzx2ng2t9nt8

2012 - Climate Change & National Priority
http://www.mediafire.com/?47682ubyhuzkb

Tuesday, August 20, 2013

Documents - 2010

2010 - Surat Pengangkatan Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan & Perubahan Iklim
http://www.mediafire.com/view/k9kw5offffrchu7/Staf_Ahli_Menteri_Kehutanan_Bidang_Lingkungan.pdf
2010 - Prosiding Seminar Dampak Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan Dalam Revisi RTRWP Terhadap Neraca Karbon Dalam Kawasan Hutan
http://www.mediafire.com/view/yj12sp16ozy5qge/DAMPAK_PERUBAHAN_PERUNTUKAN_DAN_FUNGSI_KAWASAN_HUTAN_DALAM_REVISI_RTRWP_TERHADAP_NERACA_KARBON_DALAM

2010 - SFM Financing Fact & Challenges
http://www.mediafire.com/view/?gxnp51939sesyom

2010 - Economic Incentive Policies for REDD+ in Indonesia: Findings from the OSIRIS Model
http://www.mediafire.com/view/?z83d0dyq6sw590x

Thursday, July 25, 2013

ICCTF Discussion : Indonesia’s commitment to achieve 26% reduction of green house gas emission

ICCTF has been holding monthly discussions since July 2013. The first discussion was held on July 25, 2013 with topic on the provincial spatial plan from mitigation perspective. The discussion aimed at reviewing the current issues related to provincial spatial plan in the light of Indonesia’s commitment to achieve 26% reduction of green house gas emission unilaterally and 41% with international assistance by 2020. As 75% of emission from forestry sector is contributed from deforestation and land conversion so it is important to review current situation of the provincial spatial plan according to the reduction emission plan at the national level. Held at Luwansa Hotel, the discussion is attended by ICCTF stakeholders from line ministries, academics, CSOs and the media with Yetti Rusli, the Senior Adviser to the Minister of Forestry on Environment & Climate Change as the main speaker.

Thursday, July 11, 2013

Temu Ramah Bersama Komisaris Utama PT Inhutani IV (Persero) : Dr. Ir. Yetti Rusli M.Sc


Pekanbaru- 11 Juli 2013, bertempat di Hotel Jatra Pekanbaru telah dilaksanakan temu ramah bersama Komisaris Utama PT Inhutani IV (Persero) Ibu Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc.

Sekaligus acara berbuka puasa bersama karyawan-karyawati PT Inhutani IV (Persero).

Tuesday, July 9, 2013

Forest for Future Generations – Public and Private Responsibility for Sustainability

Pada 11-12 Juni 2013 telah diadakan konferensi internasional mengenai "Forest for Future Generations – Public and Private Responsibility for Sustainability"" oleh Kementerian Federal untuk Ekonomi & Pembangunan Jerman di Berlin - Jerman. Konferensi ini mengangkat isu yang sangat penting yaitu bagaimana kita bisa berperan penting dalam menjaga hutan.

Hutan adalah faktor penting dari perubahan iklim global, karena hutan bisa mengonversi karbondioksida menjadi oksigen. Sehingga hutan menjadi sumber penghidupan (habitat) bagi banyak spesis hewan dan tumbuhan. Dan manusia pun sangat bergantung dengan keberadaan hutan.


Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk melindungi hutan dan mengakhiri segala bentuk usaha yang merusak dan menghancurkan hutan (seperti penebangan hutan secara liar). Dalam konferensi ini hadir deputi dari berbagai kementerian kehutanan dari Indonesia, Vietnam, dan Kamerun serta lebih dari 170 ahli dalam bidang politik, bisnis, dan akademisi dari seluruh dunia. Mereka bersama-sama membahas situasi dan masalah hutan di tingkat internasional.

Berikut adalah dokumentasi kegiatan salah satu perwakilan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc.
stronguardian's Forest for Future Generations Berlin 2013 album on Photobucket

Beliau juga berkesempatan diwawancari oleh salah satu radio di Jerman. Berikut adalah streaming radio-nya :
Sumber :
Conferences : Forests for Future Generations
http://www.bmz.de/de/presse/bildergalerien/index.html

Expert Worshop on Gender and REDD+

Local women’s and men’s specific roles, rights, responsibilities, as well as their specific use patterns and knowledge of forest resources, shape their experiences differently. This is true in case of their experiences with climate change as well, and therefore, climate change mitigation mechanisms such as, sustainable forest management and REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation and sustainable management of forests and enhancement of carbon stock) are only successful when all the forest users and managers, including women, are equally included in decision making process and their interests and needs are taken into account. Women are particularly more susceptible to the impacts of climate change. Declining water supplies, climate variability, climate induced natural disasters, pest outbreaks, changing precipitation patterns, and change in crop production, not only challenge the accomplishment of their day to day responsibilities, but also make them more vulnerable, as they lose their means of livelihoods.

Saturday, July 6, 2013

Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc

Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc 

Lahir : Bukit Tinggi, 21 November 1955

Pendidikan : 
  • Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan, IPB pada tahun 1978
  • Master of Science dalam bidang Forest Economics di University of Alberta, Canada pada tahun 1991
  • PhD di University of Washington USA di tahun 1999 pada bidang Natural Resource Economies. dibawah bimbingan Prof. Gerard F. Schreuder
  • LEMHANAS KSA Angkatan 13 pada tahun 2005



Karir : 
  • PNS di Badan Diklat & Penyuluhan Pertanian Departemen Pertanian - 1979
  • Kasubag Pengumpulan dan Pengolahan Data pada Biro Perencanaa Setjen - 1983. 
  • PNS diperbantukan kepada Sekjen Dephut - 1989
  • Kasubag Statistik Kehutanan pada bagian Data dan Statistik Kehutanan Biro Perencanaan - 1991. 
  • Kasubag Sistem Informasi pada Biro Perencanaan Setjen Dephut - 1994
  • Kepala Bagian Data dan Informasi - Biro Perencanaan Setjen Dephut - 1994. 
  • Staf pada Biro Perencanaan (Karya Siswa) - 1995
  • Kabid Kajian Kebijaksanaan Hutbun pada pusat Rencana Pengembangan Hutbun Badan Planologi - 1999 
  • Kebid Penyusunan Rencana Strategis pada Pusat Rencana Hutbun Baplan - 2000. 
  • Pj. Kepala Pusat Pembentukan Wilayah Pengelolaan dan Perubahan Kawasan Hutan pada Badan Planologi Kehutanan - 2001. 
  • Kepala Pusat Rencana Kehutanan pada Badan Planologi Kehutanan - 2002
  • Staf Ahli menteri Kehutanan Bidang Pembangunan Kehutanan - 2002
  • Kepala Badan Planologi Kehutanan RI - 2005
  • Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan RI - 2009
  • Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim - 2010
  • Komisaris Utama PT Inhutani IV (Persero) - 12 Juni 2013 - Sekarang
  • Tenaga Ahli Bidang Pembangunan Kehutanan Hijau pada Sekretariat Jenderal Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan RI 2016 - Sekarang
  • NPF/Vice Chief Technical Advisor for Forclime (Forest and Climate Change Programme) Financial Modul/KfW, Indonesia-Germany 2017- Sekarang

poem of
“TREES FOR BETTER LIFE”

Heal the world by planting trees
Planting more means absorbing more CO2
Planting more means produce more green products
These are the anchor of forest for climate change solution.. 
HEAL THE WORLD BY PLANTING TREES..


 ==========================

REDAKSI MAJALAH RIMBAWANI No. 18 April 2012
MENAMPILKAN TOKOH WANITA KEHUTANAN 
DR Ir. Yetti Rusli MSc.
“Kehutanan, Bidang Karir Yang Selalu Menantang”

Pengakuan Ibu Yetti bahwa pertemuan dengan Ibu Suharyanto pada siang itu membawanya kembali mengingat makna dan perjalanan seorang perempuan di bidang kehutanan yang sudah digeluti selama lebih kurang 33 tahun sejak menerima NIP sebagai Capeg di tahun 1979.  Berikut sekelumit hasil wawancara kami.

Bagaimana perjalanan Ibu menjadi wanita Kehutanan dan bagaimana peran orang tua dan dukungan keluarga?     

Perantauan dimulai ketika lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas dikampung halaman, SMA I Bukittinggi. Di pengawal tahun 1974 dengan menumpang kapal  laut

Dari Teluk Bayur menuju Tanjung Priok Jakarta untuk suatu harapan pendidikan yang lebih baik dan menantang.  Pemahaman tentang pendidikan dari orang tua, Ayah (almarhum) sebagai PNS di POS dan Ibu (almarhumah) sebagai Guru, memperkuat hati saya untuk menyeberangi lautan yang semua asing bagi seorang anak desa. Anak desa yang dibesarkan dalam lingkungan budaya adat dan agama yang kental dan kuat, hanya dengan modal niat yang ikhlas disertai doa kedua orang tua menelusuri perjalanan panjang yang akhirnya menjadi suatu kenyataan. Semoga mengalir menjadi amal bagi keduanya.

Kecintaan terhadap profesi di bidang kehutanan seperti tidak pernah tergoyah-kan.  Dimulai dari pemahaman perkemba-ngan pembangunan Indonesia pada awal tahun tujuh puluhan yang dapat dipastikan tidak bisa mengabaikan bidang kehutanan. Memang terbukti bahwa Kehutanan menjadi tumpuan awal pembangunan ekonomi Indonesia (setelah minyak bumi).

Hal inilah yang membawa saya terdorong untuk mendalami ilmu kehutanan dari sisi ekonomi dan perdagangan internasional dengan mengambil S2 di Canada dan melanjutkan S3 di Amerika.

Perjuangan mendapatkan pendidikan strata dua dan tiga, tidak terlepas dari restu, dukungan dan pengorbanan suami dan anak-anak.  Dengan keikhlasan mereka lah, karir ini bisa saya jalani.  Insya-allah perjuangan yang juga tidak mudah dapat membawa makna dan manfaat bagi kami sekeluarga maupun bagi profesi saya sebagai seorang rimbawati Indonesia. Semoga segala kekurangan sebagai seorang istri dan ibu mendapat pintu maaf.

Bagaimana pendapat Ibu tentang tantangan profesi Kehutanan saat ini?


Terutama sejak Kementerian Kehutanan berdiri sendiri di tahun 1983, telah membawa kebangkitan ekonomi Indnesia, membuka isolasi daerah, serta menjadi pemungkin pengembangan demokrasi pemerintahan di daerah.

Era perubahan iklim yang ditandai berbagai kesepakatan dunia sejak KTT Bumi di Rio tahun 1992, merupakan  tantangan kedua untuk keberhasilan kehutanan nasional bagi dunia melalui ekonomi hijau. Memang terkesan tidak mudah menjelaskan betapa murni (genuine) pembangunan kehutanan dalam menyelamatkan bumi.  Profesional kehutanan harus mampu meyakinkan bahwa dengan menanam sebanyak-banyaknya, memelihara hutan dan mengelola secara lestari, serta memanfaatkan hasil sebagai produk hijau (green products) adalah jawaban untuk perubahan iklim. Dengan demikian Indonesia seyogyanya mampu menampilkan ekonomi hijau (UNEP, Toward Green Eco-nomy, 2011) ditengah galaunya dunia  menghadapi perubahan iklim dan me-nyelamatkan perekonomian. Dengan bergandengan tangan dalam persahabatan adalah kata kunci baik di tingkat nasional maupun global.

Bagimana liku-liku perjalanan karir Ibu, dan apa peran kehutanan dalam pembangunan bangsa kedepan?

Mengawali karir di Badan Diklat & Penyuluhan Pertanian pada tahun 1979, kemudian berlanjut di bidang perencanaan umum kehutanan, perencanaan kawasan, Staf Ahli Menteri bidang Pembangunan Kehutanan, Kepala Badan Planologi Kehutanan, serta Staf Ahli bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim menghantarkan saya kepada keyakinan bahwa:

Hutan telah berperan menjadi kunci awal pembangunan ekonomi Indonesia,

Hutan akan terus menjadi tumpuan ekonomi hijau Indonesia (green eco-nomy)  kedepan yang mampu memberikan nilai kesejahteraan kepada masya-rakat, industri, dan sumber energi terbarukan (pro-poor, pro-growth, pro-environment).

Pada era perubahan iklim walau hutan Indonesia diombang ambingkan diantara berbagai pendapat, tapi sebagai profesional rimbawan harus mampu menjelaskan bahwa hutan adalah obat perubahan iklim. Dan profesi kehutanan adalah pahlawan bumi agar terhindar dari katastropi perubahan iklim.

Mencermati sejarah pembangunan kehutanan dari para senior rimbawan, memberikan keyakinan kepada saya bahwa Indonesia yang berada di wilayah tropis / khatulistiwa, harus menyadari bahwa hutan adalah  merupakan rahmat Allah SWT yang secara alami (by nature) jika dikelola secara lestari adalah untuk kemaslahatan  penduduk bumi.  Apapun yang dilakukan di bidang kehutanan, memelihara, menanam, memanfaatkan secara berkelanjutan dan menyediakan produk hijau adalah berperan menormalkan siklus karbon bumi (CO2 dan  perubahan iklim).

Apakah pembangunan kehutanan selama ini di artikan oleh beberapa pihak sebagai tindakan eksploitatif yang berlebihan, dan apakah dipahami atau tidak oleh generasi bangsa saat ini, kehutanan adalah kelompok sektor yang lebih awal mempunyai Undang-Undang (UU Pokok Kehutanan no 5 tahun 1967) yang menuntun pemerintah melaksanakan pembangunan secara bertanggungjawab. Sebagai contoh sektor yang pertama secara konsekuen melengkapi diri dengan sistem perpetaan, bahkan sebelum Nasional mempunyai  UU Tata Ruang tahun 1992. Dan sektor yang pertama di tahun 2006 mempunyai peta dasar seluruh Indonesia berbasis Citra Satelit.

Energi terbarukan berbasis biomasa belum menjadi topik bahasan kebijakan nasional, padahal konsep kayu energi (kayu bakar) sudah dikembangkan oleh kehutanan sejak lama. Potensi kedepan yang sangat besar untuk dikembangkan yaitu produk energi rendah CO2 berupa pellet kayu dan bahkan zero CO2 energi yaitu methanol dari kayu.

Contoh diatas menggambarkan bahwa semua aspek pembangunan kehutanan, mulai dari menananm, memelihara, memanfaatkan dan termasuk menghasilkan energi terbarukan dapat merupakan sumber ekonomi baru (green economy) bagi Indonesia.  Karena berada di daerah tropis dimana fotosintesa terjadi sepanjang tahun, maka Indonesia mampu menumbuhkan dengan jauh lebih cepat sebagai perannya dalam mewujudkan Global Green Economy secara signifikan.

Menurut Ibu bagaimana peran perempuan saat ini?

Keluarga besar wanita kehutanan yang terdiri dari Isteri karyawan, karyawati, dan mahasiwi kehutanan menjadi bagian penting untuk mensukseskan misi menuju hutan lestari untuk nusa dan bangsa melalui ekonomi hijau serta berperan dalam mnghadapi perubahan iklim global.

Keyakinan Kartini  tetap menjiwai semangat perempuan Indonesia untuk tampil mengambil peran dalam kehidupan keluarga, bangsa dan negara bahkan dunia..       Semoga….(Ny Suharyanto)

Sumber :
Majalah RIMBAWANI No. 18 April 2012 (ISSN 1412-8179)

Indonesia Kaya Energi Hijau

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan A Iskandar mengatakan Indonesia memiliki potensi energi hijau sangat besar.

"Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Dari panas bumi yang kita miliki saja bisa menghasilkan 29.000 megawatt (MW), kemudian dari tenaga air 75.000 MW, kemudian dari tenaga surya, angin, sampah bisa mencapai 50.000 MW," katanya pada satu seminar di Jakarta, Rabu.

Saat ini, kata dia, energi hijau ini belum dimanfaatkan optimal, misalnya dari 29.000 MW potensi dari panas bumi yang baru digunakan sekitar 9.000 MW.

Indonesia, sambung Marzan, mesti beralih menggunakan energi hijau karena tidak bisa lagi tergantung kepada energi fosil atau minyak bumi. Jika Indonesia tidak beralih, maka impor akan terus meningkat sehingga mengancam ketahanan energi.

Namun Indonesia menghadapi masalah sulitnya mencari investor energi hijau.  "Salah satu cara untuk memikat investor adalah memberi insentif untuk energi terbarukan dan disinsentif untuk energi fosil. Ini banyak dilakukan negara-negara lainnya," demikian Marzan.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/383336/indonesia-kaya-energi-hijau

Sunday, June 30, 2013

Jaga hutan bakau Indonesia

Tanjung Benoa, Bali (ANTARA News) - 3,7 juta Hektare hutan bakau yang masih ada di seluruh Indonesia harus dijaga dan dipertahankan, mengingat banyak sekali peran pentingnya; yang paling nyata terlihat menahan dan mencegah abrasi pantai.

Tentang ini, Presiden Susilo Yudhoyono menyatakan, "Marilah kita rawat hutan kita atau bakau, tanah air kita luas , 130 juta Hektare, mangrove 3,7 juta Hektare, mari kita jaga dan rawat dan tanam dan pelihara supaya subur dan lingkungan kembali subur."

Dia bersama berbagai unsur masyarakat pesisir dan pelestari bakau serta sejumlah menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II, menginisiasi gerakan penanaman pohon bakau di Telaga Waja, Benoa, Bali, Rabu.

Bicara praktik langsung dan keseharian menanam dan merawat bakau di pesisir, bukan pejabat-pejabat itu yang langsung turun tangan.

Sehingga pelibatan masyarakat umum, menjadi sangat penting. Masyarakat dari berbagai komunitas, di antaranya komunitas masyarakat Badung, Tanjung Benoa, Benoa Jimbaran, Tuban, dan Kedonganan, hadir pada gelaran konservasi lingkungan itu.

Kawasan Benoa adalah kawasan pesisir penting di Bali selatan, berbatasan dengan Nusa Dua di sisi selatan, Kota Denpasar dan kawasan Sanur, di sisi tengah dan utaranya. Pelabuhan terbesar Bali, Pelabuhan Benoa, ada di sana.

"Mari kita beri contoh dan menjadi contoh, semua saya ajak menanam mangrove," kata Yudhoyono.

Adalah Forum Mangrove Bali yang menggagas penanaman bakau, yang juga dihadiri Duta Mangrove Bali, Cristiano Ronaldo, itu.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/382053/jaga-hutan-bakau-indonesia