Pages

Hutan Kunci Bagi Sasaran Pembangunan

Hutan dunia memainkan perang penting dalam peralihan ke ekonomi hijau, tapi pemerintah perlu berbuat lebih banyak guna menjamin hutan tersebut dikelola secara berkelanjutan

Pelet Kayu, Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi

Penggunaan wood pellet (pelet kayu) sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil untuk industri besar, kecil, dan rumah tangga menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan dengan minyak tanah dan gas.

COP19 Warsawa : Indonesia Paparkan Inisiatif Hijau Dalam Kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung

"Green Initiatives on Protected Forest, Production Forest and National Parks" COP-19/CMP-9 UNFCCC, Warsawa, Polandia (15/11/2013).

Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks

ITTO co-hosted a discussion forum on “Forest Landscape Restoration: Enhancing more than carbon stocks” at Forest Day 6, convened during UNFCCC COP18 in Doha, Qatar.

Wednesday, January 15, 2014

Documents - 2014

2014 - Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc : Green Arsitektur Hutan Indonesia
https://www.mediafire.com/?32n8sbuad67cn53

2014 - Dr. Ir. Yetti Rusli, M.Sc Deklarasikan Masyarakat Pegiat Biomassa Hutan Indonesia (MAPEBHI)
Link download : [satu] [dua]

2014 - Sustainable Forest Management, PES of Forests and the Future Perspective of REDD+ in Indonesia.
http://www.mediafire.com/download/ubg2u0q2lbzd6xl/2014+-+Sustainable+Forest+Management%2C+PES+of+Forests+and+the+Future+Perspective+of+REDD++in+Indonesia.pdf
Presented at the International Forum on Payments for Environmental Services of Tropical Forests (ITTO, FONAFIFO, MINAE, FAO), 7-10 April 2014, San Jose, Costa Rica.

2014 - Future Perspective of REDD+ Implementation and the National Forest Policy in Indonesia
http://www.mediafire.com/view/vjsw88o2ff3n2qr/Future_Perspective_of_REDD__Implementation_and_the_National_Forest_Policy_in_Indonesia.pdf

Tuesday, December 31, 2013

Documents - 2013

2013 - Booklet COP19/CMP9 tahun 2013 TERSUKSES untuk REDD+: Citius, Altius, Fortius
Penulis : Nurmasripatin, Yetti Rusli dan Kirsfianti Ginoga
http://www.mediafire.com/view/cig1td2wcl475r7/COP19_tahun_2013_Tersukses_untuk_REDD.pdf

2013 - Perubahan Iklim, Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, Pohon dan Hutan: Peluang atau Bencana?
http://goo.gl/N8ndkt

2013 - 300 years of sustainable forestry
http://www.mediafire.com/download/orqzt3gx4n6o5s5/300+years+of+sustainable+forestry.pdf

2013 - Forests in the next 300 years
http://www.mediafire.com/download/h4v6m644ai7zsl9/Forests+in+the+next+300+years.pdf

2013 - Indonesia Forest Gender Mainstreaming: Scaling up Best Practices (Presented at the 25th Asia-Pacific Forestry Commission - APFC, 4-8 November 2013: “Regional Workshop on Gender Mainstreaming in National Forest Policies, Rotorua, New Zealand)
http://www.mediafire.com/view/ajks7kckasjji6n/Indonesia_Forest__Gender_Mainstreaming_Scaling_up_Best_Practices.pdf

2013 - Sustainable Community Forests for Wood Pellet Biomass Energy in Bangkalan Madura,
Indonesia
http://www.mediafire.com/view/uzbiwok28ayoavz/YETTI_Wood_Pellet_Biomass_Energy_Madura_15_Nov_2013_Warsawa.pdf

2013 - Wood Mass Energy : Metamorfic of Fuel Wood/Kayu Bakar
http://www.mediafire.com/?bepupj157cb72xa

2013 - The Green Economy We Need
http://www.mediafire.com/download/ry6l3qoas3yjafn/The_Green_Economy_We_Need.pdf

2013 - Presentasi KH Irham Wood Pellet Membangun Masyarakat Seutuhnya
http://www.mediafire.com/download/syux0x0uf9r4rrd/Presentasi_KH_Irham_Wood_Pellet_Membangun_Masyarakat_Seutuhnya_.pdf

2013 - Payment for Ecosystem Services (PES) for Communities
http://www.mediafire.com/?gtxy1j1vroltp1q

2013 - Indonesia Forest Land Use System - Scaling up Best Practices for Future Green Living Planet (ASIA LEDS 2013 Manila)
http://www.mediafire.com/download/40lefg24fay0355/Indonesia_Forest_Land_Use_System_-_Scaling_up_Best_Practices_for_Future_Green_Living_Planet.pdf

2013 - Implementing Best Practices of Sustainable Forestry for Scaling up Efforts of Climate Change Mitigation and Adaptation
http://www.mediafire.com/?2d13lwc99814cg8

2013 - Biomass Pellets : Towards a new era of renewable energy
http://www.mediafire.com/download/sshodrl8hjwi095/Biomass_Pellets_Towards_a_new_era_of_renewable_energy.doc

2013 - 4th Indonesia Business Link : Forestry Indonesia Linking the Future Green Business
http://www.mediafire.com/download/b95i5b2timvmdkz/Forestry_Indonesia_Linking_the_Future_Green_Business_2013.zip

Friday, December 13, 2013

DNPI : Berikan pemahaman perubahan iklim sejak dini

Pemahaman tentang perubahan iklim perlu diberikan sejak dini kepada anak-anak agar mereka memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Sekarang, menurut Sekretaris Kelompok Kerja Adaptasi Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Ari Mochammad, ada kalanya masyarakat menjawab tidak tahu ketika ditanya seputar perubahan iklim.



"Misalnya ketika ditanya 'apakah Anda sadar udara yang Anda hirup mengandung zat tertentu? Jawabannya 'tidak'. Pertanyaan terlalu teknis," kata Ari Mochammad dalam acara diskusi mengenai Kota dan Perubahan Iklim yang diadakan oleh Mercy Corps, siang ini.

Padahal, lanjutnya, bahasa tubuh masyarakat mengatakan bahwa individu telah merasakan dampak perubahan iklim. "Pakai masker, itu menunjukkan mereka tahu (perubahan iklim)."

Pemahaman mengenai isu perubahan iklim menurutnya bisa diberikan sejak dini, melalui taman kanak-kanak misalnya. Tantangannya, bagaimana pengajar memberikan pemahaman dengan bahasa yang dapat dimengerti sesuai dengan usia pelajar.

"Penggunaan bahasa yang rumit dikhawatirkan menimbulkan kesalahan dalam definisi, memberi kesimpulan sehingga pendekatan yang dilakukan pun salah," lanjutnya.

Isu perubahan iklim tidak melulu menjadi ranah sains. Ari berpendapat, pelajaran mengenai moral hingga agama pun dapat disisipi isu perubahan iklim.

"Misalnya di agama, dalam konteks kita mengimplementasikan ajaran, tidak merusak alam," katanya.

Indonesia sebagai negara kepulauan tropis dengan jumlah penduduk yang tinggi berpotensi mengalami dampak perubahan iklim.

Indonesia sudah merasakan dampak perubahan iklim seperti kekeringan panjang, banjir, fluktuasi temperatur ekstrem, penurunan produktivitas pertanian, penyakit berbasis vektor, cuaca dan iklim ekstrim, dan degradasi lahan.

Menurut Ratri Sutarto, Manajer Program Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN), mengatasi dampak perubahan iklim merupakan isu strategis yang membutuhkan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan.

Dengan adanya pemahaman yang lebih baik mengenai penyebab kerentanan serta risiko iklim lokal, para pemangku kepentingan kota akan dapat merumuskan strategi yang lebih baik.

Editor: Suryanto

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/408876/berikan-pemahaman-perubahan-iklim-sejak-dini

Tuesday, December 10, 2013

Indonesia pertahankan penurunan emisi 26% di Warsawa

Jakarta (ANTARA News) - Indonesia mempertahankan komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen saat menghadiri KOnferensi PBB untuk Perubahan Iklim ke-19 (COP19 UNFCCC) di Warsawa, Polandia, bulan November lalu.

Pemerintah Jepang secara resmi mengumumkan perubahan komitmen penurunan emisi 25 persen dari emisi tahun 1990, menjadi 3,8 persen dari emisi tahun 2005. Australia menghapus beberapa kebijakan perubahan iklim mereka seperti Climate Change Authority, Clean Energy Finance Company, dan DOmestic Carbon Pricing Scheme.



"Sebagai warga dunia yang bertanggung jawab, kita harus menurunkan emisi," kata Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar saat mengadakan jumpa pers paparan hasil perundingan COP 19 di kantor DNPI, Selesa.

DNPI dalam laporan "Arah Growth Green Indonesia" (2010) menulis estimasi emisi gas rumah kaca di Indonesia tahun 2005 mencapai 2,1 Giga ton (Gt).Indonesia telah berkomitmen mengurangi emisi karbon sebanyak 26 persen pada tahun 2020, kurang lebih sebanyak 0,67 Gt.
 
Apalagi, Rachmat melanjutkan, 78 persen dari komitmen 26 persen berada di Kementerian Kehutanan, yang mengalami kemajuan dalam mengurangi deforestasi.

"Saya yakin bisa melewati 26 persen without assistance," tambahnya.

Selain itu, Indonesia melalui Kementerian Perhubungan mendapatkan bantuan pendanaan internasional untuk sistem trasnportasi massal yang ramah lingkungan (Sustainable urban Transport Initiative-Nationally Appropriate Mitigation Action/SUTRI NAMA). Indonesia akan mendapat bantuan dana dari Inggris dan Jerman di bawah NAMAs Facility.

Selain Indonesia, proposal dari Chili, Kosta Rika, dan Kolombia,juga turut didanai. Indonesia dan Kolombia merupakan negara pertama yang mendapat dukungan dari dunia internasional untuk kegiatan transportasi.

Menurut Kuki Soejachmoen, Sekretaris Kelompok Kerja Negosiasi Internasional DNPI, bentuk transportasi massal itu kemungkinan adalah non-motor maupun pedestrian. Tiga kota yang nanti menjadi pilot proyek ini adalah Medan, Manado, dan Batam.

United Nations Climate Change Conference 19 diadakan di Warsawa, Polandia, pada 11-23 November 2013. Dalam pertemuan itu, rachmat menyoroti ada empat keputusan penting yang dihasilkan yaitu masalah pendanaan perubahan iklim dapat segera dimobilisasi dengan tingkat kepastian tinggi di negara maju untuk meningkatkan aksi pengendalian iklim di negara berkembang, tuntutan dari negara berkembang terutama mekanisme loss and damage perubahan iklim baik yang bersifat ekstrim maupun slow on set, serta keputusan REDD+ yang bersifat teknis, pendanaan yang mencakup monitoring dan pelaporan.

"Ini merupakan tahapan untuk COP21 tahun 2015 di Paris. Kalau di Warsawa nggak ada rekomendasi, nothing happens," katanya.

Negara-negara pihak UNFCCC menyepakati pada COP21 nanti di Paris, Prancis, akan diadopsi suatu protokol, instrumen legal atau keputusan yang memiliki kekuatan hukum mengikat (legally binding) dan melibatkan semua negara pihak (applicable to all parties) sebagai basis kerangka kerja global baru untuk penanganan masalah perubahan iklim pasca tahun 2020. Draft kesepakatan pasca 2020 itu akan dirumuskan pada COP20 di Lima, Peru, tahun 2014.(*)

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/408894/indonesia-pertahankan-penurunan-emisi-26-di-warsawa

Sunday, December 1, 2013

Konferensi PBB setujui prinsip utama pakta iklim baru

Warsawa (ANTARA News) - Konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Warsawa, Polandia, pada Sabtu (23/11) menyetujui beberapa prinsip utama dalam pakta iklim global baru yang akan disepakati tahun 2015 dan mulai diterapkan setelah tahun 2020.

Saat perundingan sepanjang dua pekan mendekati perpanjangan waktu ke-18 jam, peserta pertemuan sepakat seluruh negara harus mempersiapkan "penetapan sumbangan nasional" untuk membantu mengurangi emisi karbon.

Kesepakatan itu dianggap sebagai langkah kunci bagi semua negara untuk mencapai target ambisius pakta iklim global tahun 2015 dan menandai keinginan mereka untuk mencegah kemacetan perundingan iklim, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua.

Rintangan lain yang mengancam menghambat pembicaraan iklim sebagian juga telah teratasi saat ribuan perunding dari sekitar 200 negara mengadopsi keputusan tentang bantuan terkait perubahan iklim.

Pembicaraan itu menyeru negara-negara maju untuk menggerakkan dukungan pembiayaan dari jalur pemerintah dengan "meningkatkan kenaikan" dari 100 miliar dolar AS yang dibayar per tahun selama 2010 sampai 2012.

Menurut kesepakatan sebelumnya, negara-negara maju harus menyediakan 100 miliar dolar per tahun ke negara-negara miskin setelah tahun 2020 untuk membantu negara-negara berkembang menghadapi dampak perubahan iklim.

Namun janji itu sebagian besar tidak terpenuhi dan negara-negara maju menolak menetapkan target pembiayaan untuk periode 2013 sampai 2019.

Hingga akhir pertemuan para perunding masih beradu pendapat tentang pembuatan mekanisme yang dirancang untuk membantu negara-negara rentan menghadapi dampak kerusakan akibat pemanasan global.

Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Christiana Figueres mengatakan hasil pertemuan yang utamanya membahas pembiayaan iklim, jalan penanganan perubahan iklim tahun 2014-2015, serta dampak perubahan iklim itu sudah melebihi ekspektasi sebelumnya.

"Tak mungkin bisa menyelesaikan pembicaraan iklim dalam satu pertemuan, satu konferensi dan satu negosiasi. Sangat penting bahwa setiap hal yang dilakukan dalam satu tahun ini adalah langkah jelas ke arah yang tepat ke depan," katanya dalam keterangan pers pada akhir pertemuan yang ditampilkan di laman resmi UNFCCC.

sumber :
http://www.antaranews.com/berita/406416/konferensi-pbb-setujui-prinsip-utama-pakta-iklim-baru

Thursday, November 28, 2013

Indonesia Optimis Capai Target Penurunan Emisi Tahun 2020 Lebih Cepat

 Di tengah makin tingginya tingkat ancaman kelestarian lingkungan dan kebutuhan akan tetap tumbuhnya perekonomian demi kesejahteraan, penerapan ekonomi hijau atau green economy yang diprakarsai oleh Kementerian Kehutanan memang menjadi sebuah jawaban.

Komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi GRK nasional sebesar 26% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan dunia internasional pada tahun 2020 tidaklah main-main. Terbukti dengan penerbitan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK). Selain itu dicanangkan pula target penurunan emisi GRK sebesar 0,767 Giga ton Co2-e.



Pemerintah kemudian melimpahkan sebagian besar target penurunan ini ke sektor Kehutanan dan Lahan Gambut, yaitu sebesar 0,672 Giga ton CO2-equivalen atau sebesar 87,60% dari target nasional. Kementerian Kehutanan memotori berbagai program untuk mencapai target penurunan emisi GRK 2020, diantaranya dengan memulai Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon Per Tahun (One Billion Indonesia’s Trees/OBIT) dan pengurangan deforestasi.

Program ini menjadi tumpuan karena pohon memang mesin alam atau jantung bumi yang mampu mengubah Karbondioksida (CO2) yang diserap dari udara menjadi Oksigen (O2) yang dilepas ke udara melalui proses fotosintesis. Agar kedua fungsi hutan ini berjalan optimal, Kementerian Kehutanan menggulirkan berbagai kebijakan seperti moratorium penerbitan izin baru konversi hutan alam primer dan lahan gambut, konservasi hutan, penegakan hukum dan pengendalian kebakaran hutan, pembalakan liar, penggunaan dan pelepasan kawasan hutan non prosedural dan penyelesaian konflik tenurial lahan hutan. Sementara upaya lain juga kerap dilakukan dengan meningkatkan daya serap karbon melalui rehabilitasi hutan dan penanaman pohon.

Tahukah Anda bahwa tak hanya berdampak aktif terhadap penyelamatan bumi, gerakan penanaman pohon ini juga mampu menopang pertumbuhan ekonomi atau yang lebih dikenal dengan istilah green economy? Simak saja kisah Ahmad yang sebelumnya berprofesi sebagai penghulu di Kampung Cugah, Lampung, mengaku bahwa pohon sengon yang ditanamnya sejak tujuh tahun yang lalu kini memiliki nilai jual yang tinggi, “Setiap meter kubik harganya sekitar Rp600.000-Rp700.000 di tempat. Padahal, saya tidak perlu melakukan perawatan. Jadi, harga tersebut jelas tinggi sekali,” jelasnya.

Berbagai kebijakan dan program tersebut berhasil menurunkan laju deforestasi cukup drastis yang pada periode tahun 1990-2000 mencapai angka tertinggi 3,51 juta hektar/tahun. Hingga kini, laju deforestasi yang tercatat berkurang menjadi 450 ribu hektar/tahun. Tidak hanya mampu menurunkan emisi dari sumbernya langsung, yaitu melalui pengurangan deforestasi, namun Kementerian Kehutanan juga mampu untuk menyerap Gas Rumah Kaca (GRK) sebagai Emission Sink atau Sequestration.



Mengacu pada data di periode 2000-2006, laju deforestasi sebesar 1,125 juta ha/tahun, sedangkan penurunan deforestasi hanya sebesar 0,675 juta ha/tahun. Jika asumsi potensi volume 1 ha adalah 197m3 setara dengan 725 ton CO2e, maka penurunan emisi yang terjadi akibat penurunan laju deforestasi tersebut adalah sebesar 0,489 Giga ton CO2e = 489 juta ton CO2e. Dengan kata lain hasil ini mencapai 63,8% dari target RAN-GRK Nasional (767 juta ton CO2e atau penurunan 26% pada 2020) yang telah ditetapkan dalam PERPRES No. 61 Tahun 2011.


Hasil membanggakan ini semakin diperkuat dengan Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon Per Tahun (One Billion Indonesia’s Trees/OBIT) yang menambah jumlah penurunan emisi. Total hasil penanaman pohon hingga Oktober 2013 sebanyak 5,54 Milyar pohon. Jumlah tersebut menyerap karbon sebanyak 44 juta ton CO2e yaitu 5,8 % dari target 767 juta ton CO2e (26% tahun 2020).

Dengan demikian jumlah penurunan emisi karbon dari hasil upaya penurunan deforestasi dan penanaman pohon mencapai angka 533 juta ton CO2e yaitu 69,4% dari target 2020.

Pencapaian ini membuat Indonesia semakin optimis memenuhi komitmen penurunan emisi lebih cepat dari target waktu yang ditetapkan. Mari kita terus mendukung program Kementerian Kehutanan demi kelangsungan kita bersama.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi situs http://www.dephut.go.id . (adv)

Wednesday, November 27, 2013

Konferensi iklim sepakati pengurangan buangan gas rumah kaca

Warsawa (ANTARA News) - Wakil pemerintah yang menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PBB di Warsawa, Jumat (22/11), menyepakati serangkaian keputusan mengenai cara mengurangi buangan gas rumah kaca akibat penggundulan dan degradasi hutan.



Kesepakatan mengenai apa yang disebut gagasan REDD+ tersebut didukung oleh janji 280 juta dolar AS dalam pendanaan dari Amerika Serikat, Norwegia dan Inggris, demikian isi pernyataan yang disiarkan oleh Konferensi itu.

"Saya bangga dengan prestasi nyata ini. Kita semua sadar tentang peran sentral yang dimainkan hutan sebagai penyerap karbon, penstabil iklim dan surga keragaman hayati," kata Presiden Konferensi itu Marcin Korolec.

Korolec memuji kesepakatan tersebut sebagai "sumbangan yang sangat besar bagi pelestarian hutan dan penggunaan berkesinambungan yang akan bermanfaat buat rakyat yang tinggal di dalam dan sekitarnya dan umat manusia serta planet ini secara keseluruhan", demikian laporan Xinhua.

Keputusan itu yang disahkan tersebut menyediakan bimbingan untuk menjamin persatuan lingkungan hidup dan memuluskan jalan ke arah penerapan penuh kegiatan REDD+ di lapangan, kata pernyataan itu.

Paket tersebut juga menyediakan dasar bagi transparansi dan integritas tindakan REDD+, memperjelas jalan bagi pendanaan kegiatan terkait dan cara meningkatkan koordinasi dukungan, tambahnya.

Kesepakatan itu diumumkan saat pembicaraan iklim selama dua pekan, yang bertujuan mempersiapkan kesepakatan iklim global yang dijadwalkan disepakati pada 2015, memasuki saat-saat akhir.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/406311/konferensi-iklim-sepakati-pengurangan-buangan-gas-rumah-kaca

Thursday, November 21, 2013

COP19 Warsawa : Indonesia Paparkan Inisiatif Hijau Dalam Kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung

indonesiacop19.com - Warsawa, Polandia - Delegasi Indonesia menyelenggarakan sesi seminar bertema "Green Initiatives on Protected Forest, Production Forest and National Parks", yang diselenggarakan di booth Pavilion Indonesia pada area konferensi perubahan iklim COP-19/CMP-9 UNFCCC di Stadion Narodowy, Warsawa, Polandia pada Jumat (15/11/2013).


Staf Ahli Menteri Kehutanan bidang lingkungan dan perubahan iklim, Yetti Rusli usai seminar tersebut mengatakan Seminar menghadirkan narasumber dari Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan dan stakeholder terkait seperti Artha Graha Peduli membahas tentang inisiatif hijau pada kawasan hutan konservasi dan hutan lindung, termasuk usaha konservasi kawasan dan spesies.

Dalam seminar tersebut dijelaskan mengenai contoh inisiasi hijau pada Kawasan konservasi Taman Nasional Tambling, Lampung dengan fauna konservasi antara lain Harimau Sumatra. disana konsentrasi fauna harimau sumatara, dikaitkan ekosistem yang dipelihara, sehingga juga memelihara karbon stok.

Juga dijelaskan mengenai hutan produksi dengan pengelolaan berkelanjutan dari kawasan gambut sehingga bisa menjaga karbon stok pada kawasan hutan di Giam Siak Kecil, Riau, Indonesia.

Sedangkan dari Kementerian Kehutanan menjelaskan mengenai contoh pelibatan masyarakat dalam proyek konservasi dan mitigasi perubahan iklim yaitu di Bangkalan Madura, dimana masyarakat diajak untuk menanam pohon Kaliandra Merah, untuk diolah menjadi pelet kayu bakar. (NR Fajar)

Friday, November 1, 2013

Legislator : kebijakan adaptasi perubahan iklim masih rendah

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Kaukus Ekonomi Hijau DPR Satya Widya Yudha mengatakan kebijakan adaptasi terhadap perubahan iklim masih sangat rendah.

"Kebijakan adaptasi perubahan iklim masih sangat rendah. Ini perlu menjadi perhatian serius," ujar Satya di Jakarta, Selasa.



Dia berpendapat hingga saat ini anggaran yang dialokasikan untuk adaptasi masih rendah.

"Buktinya, dari 13 miliar dolar AS dana yang dialokasikan untuk lingkungan hidup. Tidak ada yang dialokasikan untuk adaptasi," tambah dia.

Selain itu juga, tambah dia, aturan yang dibuat oleh DPR juga kurang menyentuh masyarakat di lapisan bawah.

"Kadang masyarakat pada lapisan bawah tidak paham dengan kebijakan yang dibuat," lanjut dia.

Satya menambahkan perlu adanya identifikasi masalah dan melibatkan masyarakat lapisan bawah sehingga UU yang dibuat benar-benar menyentuh mereka.

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/402617/legislator--kebijakan-adaptasi-perubahan-iklim-masih-rendah

Tuesday, October 29, 2013

Indonesia-Swiss kerja sama program bangunan hijau

Jakarta (ANTARA News) - Republik Indonesia bekerja sama dengan Swiss dalam memperluas inisiatif program bangunan hijau ke berbagai kota di Indonesia guna mengatasi peningkatan dampak perubahan iklim dari emisi gas rumah kaca.

"Kunjungan rombongan Swiss untuk bertemu membahas untuk membantu Indonesia mengenai program bangunan hijau nasional dan menghentikan gas rumah kaca," kata Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Imam Ernawi dalam pertemuan dengan delegasi Swiss di Jakarta, Sabtu.



Ia mengemukakan bahwa pembahasan tersebut juga untuk memperluas inisiatif program bangunan hijau untuk kota-kota di seluruh Indonesia.

Upaya yang dilakukan, ujar dia, bertujuan mengurangi emisi karbon dan konsumsi sekaligus melakukan penghematan biaya.

Sebagaimana diketahui, kajian Dewan Nasional Indonesia tentang perubahan iklim menyebutkan bahwa sektor bangunan di Indonesia menyumbang 27 persen dari total penggunaan energi.

"Penggunaan ini diperkirakan akan meningkat hingga 40 persen pada tahun 2030 sehingga penting bagi Pemerintah untuk mendorong transisi ke bangunan hijau," kata Dirjen Cipta Karya.

Sementara itu, Duta Besar Swiss untuk RI Heinz Walker mengatakan bahwa pihaknya sangat menghargai komitmen sangat menghargai komitmen Kementerian Pekerjaan Umum RI untuk mempromosikan dan mengembangkan solusi bangunan berkelanjutan untuk membuka jalan menuju ekonomi hijau.

Sebelumnya, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga telah bekerja sama dengan Swedia membahas pembangunan kota hijau dengan prinsip berkelanjutan sebagaimana telah dilakukan di Swedia untuk dapat diterapkan di Indonesia.

"Kerja sama dengan Swedia memberikan pengetahuan tentang pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan dan lebih efisien," kata Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak di Jakarta, Jumat (25/10).

Untuk itu, Badan Pembinaan Konstruksi telah mengirimkan sekitar 10 persen sumber daya manusia guna mengikuti pelatihan konstruksi teknologi berkelanjutan dan studi pengembangan kapasitas di Swedia.

Selain itu, Direktorat Jenderal Bina Marga dan Direktorat Jenderal Cipta Karya juga telah melaksanakan pembangunan infrastruktur dengan konsep ramah lingkungan.

Penerapan hal tersebut dilakukan, antara lain untuk konstruksi jalan dengan memakai material lokal dan daur ulang serta pembangunan bangunan hijau.

Sementara Direktur Jenderal Penataan Ruang Basoeki Hadimoeljono mengemukakan bahwa kerja sama RI-Swedia dalam program pelatihan manajemen masyarakat perkotaan diwujudkan dalam pelaksanaannya di sejumlah kota seperti di Palu (Sulawesi Tengah) dan Probolinggo (Jawa Timur).
(M040/D007)

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/402274/indonesia-swiss-kerja-sama-program-bangunan-hijau

Saturday, October 26, 2013

Kebijakan Emisi Karbon Picu Inovasi

Jakarta (ANTARA News) - Setiap aktivitas yang dilakukan dapat memicu timbulnya jejak karbon.

Jejak karbon adalah  jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatannya dalam periode tertentu.

Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) dalam laporan "Arah Growth Green Indonesia" (2010) menulis estimasi emisi gas rumah kaca di Indonesia tahun 2005 mencapai 2,1 Giga ton (Gt).



Farhan Helmy, Sekretaris Kelompok Kerja Mitigasi  (DNPI) menjelaskan salah satu pemicu timbulnya emisi karbon adalah penggunaan lahan di Indonesia.

"Contoh konversi lahan mengakibatkan yang tadinya fungsi hutan menyerap (karbon dioksida), sekarang  daya serap menjadi berkurang," katanya pada acara "24 Hours of Reality: The Cost of Carbon" di @amerca, Pacific Place, Rabu malam.

Dari jumlah yang dihasilkan sekarang, menurut Farhan, bila tidak ada usaha untuk mengurangi emisi karbon, jumlahnya akan bertambah menjadi 2,9 Gt pada 2020.

Indonesia telah berkomitmen mengurangi emisi karbon sebanyak 26 persen pada tahun 2020, kurang lebih sebanyak 0,67 Gt.

Konsekuensi dari komitmen itu adalah semua kebijakan pemerintah seharusnya diarahkan ke pengurangan itu.

"Di dalam konteks perubahan iklim ada dua cara, dekarbonisasi yaitu mengurangi emisi karbon dan dematerialisasi," katanya.

Dematerialisasi misalnya dapat berupa pengurangan bahan atau mempersingkat proses produksi sehingga jejak karbon yang dihasilkan semakin pendek.

Proses mengurangi emisi karbon itu pun dapat memicu timbulnya inovasi dalam bidang industri.

Ia memberi contoh terhadap pecucian sepetong celana jeans yang membutuhkan 200 liter air sekali cuci.

Kebijakan untuk mengurangi emisi karbon dapat menimbulkan inovasi material yang tidak membutuhkan air sebanyak itu untuk mencuci, misalnya.

"Ada peluang baru untuk produksi barang atau jasa sehingga rendah emisi tapi kita bisa pakai jeans tanpa khawatir," katanya memberi contoh.

Ia memberi contoh lainnya, dengan meningkatnya suhu dan naiknya tarif dasar listrik, muncul inovasi green-bulding yang dapat menurunkan konsumsi pemakaian listrik, seperti penggunaan pendingin ruangan dengan sensor yang dapat menyesuaikan suhu sesuai dengan keberadaan orang dalam ruangan itu.

Pembangunan gedung dengan banyak kaca pun akan membantu mengurangi penggunaan lampu saat jam kerja.

Mengurangi emisi karbon pun dapat dilakukan secara sederhana dan dimulai dari diri sendiri. Ia memberi contoh satu hal yaitu berjalan kaki dan penghematan kertas.

Ketua Harian DNPI, Rachmat Witoelar menambahkan selalu membuang sampah pada tempatnya dan menggunakan gelas untuk berkumur ketika menyikat gigi juga merupakan hal sederhana yang dapat mengurangi emisi karbon.

"Kalau satu juta orang lakukan, penghematannya banyak," katanya.

Sumber :
http://www.antaranews.com/berita/401875/kebijakan-emisi-karbon-picu-inovasi